Membuka lagi lembaran-lembaran Terjemah Rasa/ Antara Aku, Hamba dan Cinta. Di bulan maulid ini setiap sore maupun malam ku dengar lantunan barjanji memuji, mengenang dan menghormat untuk sang manusia mulia. Tapi peristiwa semalam tentang ujian kelapangan atas perputaran kemenangan sungguh sangat menyesakkan dan menggelisahkan semua insan yang terketuk nurani kemanusiaannya. Duhai sang manusia mulia, sungguh kami sangat jauh darimu, tapi kami yakin cintamu yang tak terbatas dan tak bertepi. Dan tragedi semalam semoga menyadarkan kami akan tuntunanmu untuk berkasih sayang, menjadi rahmat bagi semesta, bukan jadi susah dan duka. Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad Kuberanikan diri menyapamu, wahai rasul mulia Kupaksa bibir ini untuk tak henti mengucap namamu dan kupaksa tubuh ini untuk setiap waktu mewadahi segala teladanmu. Kadang kusombongkan keberadaanku sebagai jelmaan kemuliaanmu. Namun nyatanya saat aku berkaca, hanya kulihat kekejian dalam tatap mataku; h...
Aktivis sering disebut sebagai “pengganggu kenyamanan” oleh mereka yang diuntungkan dari ketidakadilan." Tetapi justru di situlah fungsi mereka: menjadi suara publik yang menolak tunduk pada kebisuan. Namun, di era digital, ancaman yang datang pada aktivis tidak lagi sebatas intimidasi fisik, melainkan juga serangan sistematis dari buzzer. Fakta menariknya, menurut laporan SAFEnet, hampir 40 persen aktivis di Indonesia pernah menjadi target serangan digital, mulai dari doxing hingga framing di media sosial. Artinya, buzzer bukan sekadar akun anonim iseng, melainkan mesin politik yang nyata dampaknya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihatnya di lini masa Twitter atau komentar Instagram. Seorang aktivis yang berusaha mengkritik kebijakan publik tiba-tiba dibanjiri komentar seragam: ada yang menghina pribadi, ada yang memutarbalikkan fakta, bahkan ada yang menyebarkan fitnah. Yang menarik, pola itu selalu mirip, seperti ada instruksi tersembunyi yang menggerakkan. Mari kita ...
Wahai diriku, terima kasih sudah memulai dan merefleksi tanpa mengakhiri. Sejatinya perjalanan ini sungguh endless destination. Saat sampai puncak pasti akan diuji dan kembali ke awal, lalu berjalan hingga menuju ke puncak serta kembali lagi ke awal. Senantiasa nikmati proses. Berikut proses 8 tahap yang alhamdulilah sudah dimulai, berjalan, berefleksi ke puncak lalu kembali ke awal dan berjalan lagi. Panttanjali mengklasifikasi yoga menjadi delapan bagian atau tahapan, seperti di bawah ini: 1 . Yama Tingkatan ini berdasar pada hubungan individu dengan masyarakat. Yama mempunyai lima prinsip dasar, yaitu: a. Pengendalian diri terhadap hasrat (aparigra). Misalnya, ketika kita haus, kia minum segelas air, itu sudah cukup untuk menghilangkan dahaga, tidak perlu kita minuma dua atau tiga gelas air meskipun bisa. b. Kejujuran (Satya), termasuk bicara yang sebenarnya, lebilh baik diam jika tidak dapat berkata jujur, dan membicarakan kebaikan orang, bukan sebaliknya. c. Anti-kekerasan (ahimsa...
Komentar
Posting Komentar